Dampak Perang Rusia-Ukraina pada Teknologi di Indonesia15 Aug 2022 05:54:15
Pada 22 Februari 2022, perang pecah di Eropa Timur di mana Rusia melancarkan operasi militer untuk menginvasi Ukraina. Perang ini ditandai dengan majunya militer Rusia melintasi perbatasan Ukraina dari arah timur dan wilayah Belarusia. Pertempuran masih terus berlanjut sampai tulisan ini dibuat.
Terjadinya peperangan mampu menimbulkan berbagai kerugian di dalamnya serta memberikan dampak yang sangat luas. Ketegangan akibat peperangan yang bergulir sejak Februari 2022 mampu mengakibatkan kerugian di dalamnya serta ketidakpastian global di berbagai aspek kehidupan. Perang Rusia - Ukraina berpengaruh pada melonjaknya harga sejumlah komoditas pangan seperti gandum karena proses distribusi gandum dari Ukraina dan Rusia menjadi terhambat. Perlu diketahui, kedua negara itu adalah negara eksportir gandum terbesar di dunia.
Selain bidang ekonomi, perang Rusia - Ukraina juga turut andil mempengaruhi pada bidang teknologi. Inilah dampak peperangan yang dirasakan Indonesia pada bidang teknologi.
Memperparah Kelangkaan Chip Semikonduktor
Dikutip dari Kompas.com, selama kurang lebih satu tahun belakangan ini, dunia mengalami kelangkaan stok komponen chip semikonduktor. Sejatinya muncul harapan bahwa pada 2022 ini kelangkaan chip semikonduktor diprediksi membaik. Namun, terjadinya invasi Rusia ke Ukraina kemungkinan memupus harapan itu.
Menurut laporan dari Canalys, Ukraina selama ini memasok lebih dari setengah kebutuhan gas neon dunia. Industri chip semikonduktor sangat bergantung dengan gas neon karena itu material kunci dalam industri tersebut. Peperangan di Ukraina diprediksi akan mengganggu produksi gas neon yang pada akhirnya semakin memperparah kelangkaan chip semikonduktor. Ini akan berpengaruh pada rantai distribusi komponen perangkat elektronik karena akan menjadi terhambat, mengingat salah satu komponen krusial yang mengotaki perangkat elektronik saat ini adalah chip semikonduktor.
Selain pasokan gas neon, industri chip semikonduktor juga bergantung pada palladium. Bahan ini digunakan sebagai alternatif emas dalam industri chip semikonduktor. Dilansir dari Business Standard, Rusia memasok palladium sebesar 45% dari kebutuhan global. Namun, ancaman blokade perdagangan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Joe Biden menambah parah ketidakpastian yang sudah mengguncang pasar chip semikonduktor global.
Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global tentunya juga ikut terdampak kelangkaan chip semikonduktor. Contohnya, banyak produsen menaikkan harga komputer dan laptop sebagai imbas kelangkaan pasokan chip semikonduktor. Tidak hanya barang elektronik, industri otomotif turut merasakannya. Seperti yang dituliskan Kontan, krisis ini tentu menghambat pendistribusian beberapa model motor dari produsen ke konsumen, meski itu bergantung pada model sepeda motor.
Peluang Kerjasama Teknologi Nuklir Indonesia - Rusia
Seperti yang diberitakan media media nasional, Presiden Joko Widodo melakukan lawatan kenegaraan ke Rusia pada tanggal 30 Juni 2022 lalu setelah sebelumnya melakukan kunjungan ke Ukraina untuk menemui Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.
Salah satu poin yang dibahas dalam lawatan Jokowi di Rusia adalah soal peluang pengembangan industri teknologi nuklir bersama antara Indonesia dan Rusia. Meski bukan dampak langsung dari perang di Ukraina, peluang ini bisa jadi didapatkan karena posisi Indonesia yang merupakan bukan bagian dari blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat.
"Banyak perusahaan kami, termasuk perusahaan energi, beroperasi di Indonesia. Ada ketertarikan untuk mengembangkan industri tenaga nuklir nasional," kata Putin.
Melansir dari situs resmi Istana Kepresidenan Rusia, Vladimir Putin menyatakan bahwa banyak perusahaan asal Rusia beroperasi di Indonesia, termasuk juga perusahaan yang bergerak di bidang energi. Oleh karena itu Rusia tertarik untuk ikut mengembangkan industri tenaga nuklir di Indonesia.
Rusia, sebagai pewaris terbesar Uni Soviet, merupakan sedikit dari negara pemilik senjata nuklir di dunia. Namun, itu bukan berarti Rusia hanya menggunakan nuklir untuk kepentingan militernya. Rusia juga memanfaatkan nuklir untuk kepentingan lain di luar militer seperti pembangkit listrik tenaga nuklir.
Selain itu, Putin mengatakan bahwa negaranya punya keahlian dan kompetensi dalam bidang nuklir. Putin juga menyebut nama perusahaan milik negara Rusia yang bergerak di bidang teknologi nuklir.
"Dengan pengalaman unik, kompetensi, dan teknologi yang tak tertandingi, Perusahaan Negara Rosatom bersedia mengambil bagian dalam proyek bersama, termasuk proyek yang terkait dengan penggunaan non-energi teknologi nuklir, misalnya, di bidang kedokteran dan pertanian" ungkap Putin dalam pernyataannya.
Perang antara Rusia dan Ukraina masih terus berlanjut dan sampai saat ini masih belum menunjukkan pertanda bahwa perang akan berakhir. Konflik antara kedua negara ini tentu membawa dampak buruk.
Tidak hanya negara tetangganya, negara negara yang letaknya sangat jauh dari lokasi pertempuran pun ikut terkena dampak perang. Contohnya negara kita tercinta, Indonesia. Memang dapat dikatakan bahwa Indonesia aman dari serangan bersenjata dari kedua negara. Namun, efek domino perang menghantam aspek kehidupan, baik ekonomi maupun teknologi.
Sebagai bagian dari warga dunia, tentunya kita mengharapkan bahwa perdamaian dapat diwujudkan di tanah Ukraina suatu saat nanti.
Lumbatech menyediakan berbagai macam perangkat keamanan, mulai dari access control, kamera CCTV, smart door lock, hingga berbagai jasa seperti instalasi perangkat keamanan, instalasi jaringan, fluke test, dan jasa lainnya. Bagi Sahabat Lumba yang membutuhkan jasa Lumbatech atau ingin berkonsultasi tentang solusi keamanan yang cocok, Sahabat Lumba dapat menghubungi nomor WA Lumbatech di 0811881901 atau 0811880901.